Pada tanggal 6 juli 2020 kami pun melanjutkan survey dengan berkunjung ke dinas pertanian kabupaten kuantan singingi dengan ditemani oleh bapak Raja Rafli dan ibu Widya Astuti dengan kondisi yang dapat dikatakan cukup kurang bersahabat kami berangkat dengan memakai masker dan dengan standar protokol kesehatan, untuk mendengarkan langsung dari kepada dinas pertanian bagaimana perkembangan dan efesiensi dari APKARKUSI dalam membantu mempertahankan nilai jual dari karet agar dapat stabil dan membantu perekonomian masyarakat petani karet kabupaten kuantan singingi terlebih untuk mempertahankan eksistensi tanaman karet yang mulai tersisihkan dengan harga jual dari sawit.
Diperhitungkan dalam 10 tahun terakhir minat untuk menanam karet semakin menurun dan kebanyakan masyarakat mulai berlomba untuk menanam sawit. terlihat 2017 kemaren hanya tinggal 1.39 ribu hektar yang tersisa, namun pada tahun 2018 hingga kini relatif bertahan dengan adanya program lelang BOKAR ini dan pelopor dari sistem lelang BOKAR adalah APKARKUSI yang berdiri pada tahun 2018 lalu, maka secara tidak langsung dapat dikatakan APKARKUSI adalah tiang dari ada atau tidaknya industri karet hilir mendatang.
berjalan searah dengan visi dari APKARKUSI sendiri yaitu Terwujudnya masyarakat petani yang mandiri dan sejahtera melalui pemasaran bokar dan pemanfaatan sumber daya perkebunan yang berdaya saing, adil dan berkelanjutan, hingga dapat disimpulkan bahwa sistem lelang yyang diterapkan oleh apkarkusi ini membantu mempertahankan minat masyarakat untuk terus berkebun karet.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar